Tampilkan postingan dengan label fantasy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fantasy. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 05 Maret 2016
Daughter of Smoke and Bone
Sebuah dunia dimana di sisi kehidupan 'membosankan' manusia yang terkesan monoton terdapat Malaikat dan Chimera, yang terus bertarung untuk sesuatu yang - di awal ini setidaknya - sudah sangat samar karena lamanya.
Secara konsep, saya mengakui novel ini OK.
Penokohan pun tidak terlalu buruk. Setidaknya saya bisa suka pada satu-dua karakter. Itu sudah poin lebih.
Narasi juga menarik, walau kadang membuat lelah, tapi kemasannya indah, jadi mata tetap bisa terpaku pada tulisan.
Satu-satunya yang membuat saya JENUH dan lama-kelamaan sebal pada cerita ini adalah keberadaan Akiva.
Pertama, betapa dia digambarkan sempurna.
Kedua, atribut-atribut yang semuanya mengacu pada pola GARY STU alias TOKOH SUPER SINETRON.
Ketiga, sekalipun bukan ranah favorit, saya cukup tolerir pada percintaan. Dan pecintaan di sini jelas melampaui batas tolerir saya.
Sejujurnya, saya penasaran pada kelanjutan buku ini.
Masalahnya, apa saya bisa tahan dengan Akiva LAGI?
Minggu, 10 Januari 2016
The Red Pyramid
Alasan utama saya mengambil buku ini; saya suka cerita yang mengocok-ocok mitologi. Apalagi kali ini mitologi MESIR yang diangkat.
Mesir sudah jadi salah satu bagian penting dalam sejarah karier saya, berkat CMB dan Domitor Leo. Kesampingkan kisah-kisah kurang menyenangkannya dulu, konsep dewa-dewi mereka serta kehidupan alam gaibnya selalu menarik untuk dibaca.
Dan tentang buku ini sendiri, kali ini pun saya puas dengan lelucon garing pengarang (serta kelihaian penerjemah) yang disusupkan dalam situasi yang sebenarnya sedang genting.
Secara singkat, novel ini berkisah tentang kakak-beradik Kane, yang hidup tercerai-berai semenjak insiden misterius yang menyebabkan ibu mereka menghilang. Carter dan Sadie bertemu kembali bertahun-tahun kemudian saat ayah mereka mencoba melakukan sebuah ritual di British Museum. Ternyata ini malah membuat keduanya kehilangan ayah juga, dan terpaksa bahu-membahu bertahan hidup dari monster-monster dan makhluk yang selama ini hanya mereka kenal dari mitologi belaka.
Satu-satunya yang saya cemaskan cuma...
Please, cerita ini jangan ditarik-ulur nantinya!! Jangan kayak yang satunya lagi...!!
Rabu, 30 Desember 2015
Prince of Thorns
Balas dendam, pengkhianatan, dan amoralitas - itulah yang saya dapat dari buku pertama The Broken Empire series ini.
Sebenarnya, titik awal balas dendam si tokoh utama sangat wajar (agak tipikal shonen manga, tapi sudahlah), sayangnya dia kemudian digambarkan jadi sama saja bejatnya dengan pelaku pembunuhan keluarganya, dan ayahnya yang tutup mata tentang insiden yang bersangkutan.
Saya bukannya anti novel keras, tapi sepertinya selaku tokoh utama, Jorg tak bisa mengulik simpati saya.
Dengan tema yang agak mirip, dan dunia yang sama kerasnya, saya lebih relate pada Taiga Kengo di GENEZ series.
Tapi, satu yang saya cukup puji dari buku ini adalah settingnya, yang ternyata bumi di masa depan.
Bukan alternate universe atau masa lalu.
Masalah berikutnya adalah... Mana buku keduanya, wooooiiii!!
Langganan:
Postingan (Atom)


