Tampilkan postingan dengan label very good. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label very good. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Desember 2016

Otaku ni Koi wa Muzukashii



Narumi adalah OL biasa...setidaknya itulah yang terlihat di luar, karena sebenarnya dia adalah seorang otaku, tepatnya fujoshi akut. Patah hati dengan rekan kerjanya membuat Narumi mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, dan pindah ke tempat lain. Tanpa disangka-sangka, di sana dia malah bertemu Hirotaka, teman sepermainannya sejak kecil. Hirotaka yang ganteng tapi super datar sebenarnya juga seorang otaku, walau lebih cenderung ke video game.

Sejak kecil, Hirotaka sebenarnya sudah menyukai Narumi. Karena itu, ketika suatu malam Narumi mengeluhkan peruntungan jodohnya yang apes melulu (padahal kalau di game selalu lancar jaya), Hirotaka pun menyatakan perasaannya. Awalnya, karena sesama otaku dan berbeda selera, hubungan keduanya tidaklah semulus itu (walau tidak lantas bertengkar). Tapi toh Narumi tahu akan perhatian Hirotaka padanya (cowok yang bahkan rela diajak berkeliling di event penuh barang BL), dan pasangan otaku ini pun menjalani kehidupannya yang penuh 'warna', dan kadang diramaikan pula dengan pasangan otaku lainnya di kantor mereka, serta adik Hirotaka yang entah kenapa jomblo melulu padahal tak kalah menariknya dengan sang kakak.

Sabtu, 05 November 2016

SOUL CATCHER(S)



Bisa melihat 'hati' orang lain, itulah anugrah yang dimiliki Kamine Shouta. Tapi, baginya itu lebih seperti kutukan karena dia hanya bisa melihat, tidak lebih. Sejak kecil, tak ada yang percaya padanya, termasuk ayahnya sendiri. Sang ayah berakhir ditipu teman baiknya, padahal Kamine sudah memperingatkannya, karena dia melihat sendiri hati orang tersebut 'berbahaya'.

Suatu hari, tanpa sengaja Kamine mendengar permainan saxophone yang 'menggerakkan' hati orang lain. Pemandangan yang tak pernah dia lihat ini mendorongnya untuk berkenalan dengan Tokisaka Hibiki, pemain sax tersebut. Kamine penasaran kenapa hati Tokisaka yang mampu mengguncang orang lain seolah remuk redam karena suatu hal. Tokisaka mengakui, ada orang yang ingin dia gugah dengan musiknya, tapi tak kunjung membuahkan hasil. Kamine, yang untuk pertama kalinya merasakan kesempatan untuk memanfaatkan matanya dengan benar, membantu Tokisaka. Lewat pengalaman ini, Tokisaka menemukan jalan bagi Kamine; menjadi konduktor.

Walau awalnya enggan dan takut, kesungguhan Tokisaka yang menyebut dirinya 'teman' akhirnya membawa Kamine pada kelompok orkes tiup sekolah mereka. Perjalanan yang tidak mudah, karena para part leader yang masing-masing memendam masalah tidak lantas menerimanya. Tapi, Kamine yang sudah bosan menyerah memutuskan, dia takkan mundur dan akan menjadi konduktor yang diakui oleh kelompok orkes ini.

Komik ini memang tidak sedetail Nodame Cantabille dari segi pengetahuan musiknya, atau super menggugah seperti Piano Hutan. Tapi, penyampaiannya yang fantasi ini lebih cocok bagi saya. Humor-humor di dalamnya, seperti Tokisaka yang hatinya langsung jadi bapak-bapak picik begitu cemburu, atau para part leader yang gemar menggoda Kamine dan cewek yang diam-diam naksir padanya. Bukan sesuatu yang 'baru', tapi dikemas dengan sangat apik.

Rabu, 21 September 2016

Ohitori Shokudo


Kedai Sei-chan adalah rumah makan kecil yang tidak menyolok. Hanya punya 7 kursi, dan dikelola oleh Seiichiro, pemuda pemalu berkacamata yang meneruskan rumah makan ini sejak ayahnya tiada. Tidak ada menu istimewa, tapi selalu punya pengunjung karena rasa masakannya yang dinilai 'rasa masakan ibu' dan kebersihannya.

Seiichiro yang kerap dipanggil Sei-chan sebenarnya punya sisi lain yang tak pernah diduga oleh para pelanggan; dia seorang gitaris rock band yang cukup terkenal. Rekan-rekannya tentu saja tahu tentang ini, dan tak pernah protes, kecuali bahwa tour selalu hanya bisa di hari Sabtu, Minggu atau libur panjang Obon dan tahun baruan (karena pelanggan yang kebanyakan pekerja kantoran hanya libur di saat itu).

Komik ini tidak menjual gambar makanan yang sangat menggoda seperti banyak komik kuliner pada umumnya, tapi nuansa slice of life yang disajikan di dalamnya sangat bagus dan tidak memberikan konflik sok berat atau kompetitif tidak penting. Stereotype ayah keras kepala yang kolot pun tak ada di sini (almarhum ayah Sei-chan digambarkan sering menonton konser putranya, bahkan sampai dive segala).
Selain kehidupan ga
nda Sei-chan, poin drama lain kisah ini adalah bagaimana Sei-chan berinteraksi dengan pengunjung perempuan - yang mana salah satunya menjadi pemicu untuk buka sampai malam (kedai makan perkantoran biasanya hanya beroperasi siang). Sei-chan yang polos mudah jatuh hati dengan pengunjung, tapi karena sikap pemalu dan memang belum beruntung, dia tetaplah jomblo yang disukai orang-orang sekitarnya.

Satu-satunya keluhan saya untuk komik ini hanyalah kurangnya masakan yang tampil di dalamnya, tapi tidak mengurangi nilai positifnya, yang nyaris sempurna (penilaian super subjektif saya).
 

Kamis, 10 Maret 2016

URAKATA!!



Kurisu Ranmaru tak pernah merasa dirinya berguna sepanjang hidupnya. Sebagai putra nelayan, dia tak punya harapan meneruskan pekerjaan ayahnya lantaran mudah mabuk laut. Di kotanya pun dia tidak punya teman dekat karena 'kesalahan'nya semasa sekolah. Tapi, begitu masuk kuliah di Tokyo, Ranmaru menemukan dunia baru, dimana dia mendapati orang sepertinya yang sebenarnya terampil sekali dalam membuat printilan bisa memiliki tempat; menjadi Urakata atau petugas balik panggung.
  
Apakah dia masuk dengan suka rela? Tentu saja tidak, karena dia kan orang yang amat sangat negatif. Tapi, Goda Ryuji sang ketua Urakata menyeretnya, karena merasa kemampuan Ranmaru akan sangat berguna bagi kelompoknya. Plus, Goda tidak suka melihat Ranmaru yang menurutnya 'membusukkan nalar'. Singkat cerita, setelah satu-dua percobaan kerja dan berbagai kehebohan yang menyertainya, Ranmaru pun menetapkan diri untuk bergabung dengan Urakata.

Sebagai komik shojo, Urakata sangatlah menarik, karena fokusnya bukan percintaan semata, melainkan interaksi para karakter yang mendedikasikan diri untuk menciptakan sebuah karya yang 'bagus'. Dan sebagai bonus tambahan, banyak pengetahuan tentang a-b-c di balik panggung sebuah film.

Saya pribadi tertawa dan menikmati sekali melihat karakter komik ini, yang merupakan parodi dari nama-nama sutradara ternama;
  • Kurisu Ranmaru = Chris Nolan
  • Goda Ryuji = Jean-Luc Godard
  • Enjouji Ruka = George Lucas
  • Samura Izumi = Sam Raimi
  • Rokubu Maasa = Rob Marshall
  • Tenba Tomu = Tim Burton
  

Selasa, 01 Maret 2016

PSYCHO-PASS



Di masa depan, kehidupan manusia nyaris seluruhnya ditentukan oleh apa yang disebut Sibyl System. Sistem ini menentukan dengan akurat mulai dari pilihan karier sampai jodoh. Tidak ada lagi yang namanya pengangguran, atau PHK sepihak. Tapi, tentu saja, itu hanyalah tampak luar, karena selalu ada faktor-faktor X yang mendorong manusia untuk berlaku bodoh.

Tsunemori Akane, seorang polisi rookie memilih kariernya karena merasa inilah memang jalan hidupnya. Namun, berurusan dengan para enforcer yang kerap disebut anjing pemburu kepolisian, wawasan Akane semakin bertambah, dan - walau tak menyesali atau mempertanyakan pilihan kariernya, Akane akhirnya menyaksikan sosok sejati dari Sibyl, yang tentu saja, didirikan dari tumpukan korban tak bernama.

Novelisasi yang sangat memuaskan, itulah komentar singkat saya tentang buku ini.

Saya tidak akan mengatakan buku ini lebih unggul dari animenya, tapi yang pasti, membaca buku ini setelah menonton animenya memberikan BANYAK sekali penjelasan yang membuat saya lebih memahami setting Psycho Pass. Mengejutkan bahwa yang dipaparkan dalam anime ternyata hanya 70% dari setting yang ada. Amerika ternyata sudah hancur, dan Jepang kembali menutup diri dari pengaruh negara lain, misalnya (walau tidak sepenuhnya).

Khas novelisasi (atau dalam kasus ini, karena awalnya ini disusun seperti novel), tentu saja ada perbedaan di sana-sini. Yang langsung saya sadari adalah isu yuri yang sangat ditonjolkan di novelnya. Yah, namanya juga Fukamin, malah aneh kalau sudah ada bahan tapi tidak dimasak dengan mantap.

Sebagai beta version dari animenya, novel ini sangat menghibur, dan memperjelas banyak foreshadow yang ditampilkan di anime, seperti kenapa Yayoi menanggapi dingin saja atas lenyapnya Kougami di akhir. Atau bahwa Kagari memang tewas tak bersisa, yang di anime ditampilkan sangat menggantung pada awalnya.

Lainnya, mungkin terlihat betapa karakter yang terkesan seperti sampingan di animenya, di sini diberi peran sendiri. Kagari bahkan mendapat cerita pendek tentang kehidupannya sebelum jadi Enforcer, serta pendapatnya tentang para anggota Divisi 1.

Beberapa detail lain yang terkesan seperti info-dump sering terlihat, tapi kalau dibaca lagi, menurut saya itu memperkuat setting. Jadi, tidak akan mengganggu. Apalagi, yang disebut info-dump itu hanya memakan dua halaman kurang. Jauh berbeda dengan beberapa novel yang memasang SEPULUH halaman penjelasan belaka. Ini setidaknya dikemas dalam situasi yang mendukung plot.

Selasa, 16 Februari 2016

PSYCHO-PASS Zero / Namae no Nai Kaibutsu



Bersetting tiga tahun sebelum Akane Tsunemori (tokoh utama di series) bergabung ke Divisi 1.
Kougami Shinya kerap dipusingkan oleh Sasayama Mitsuru, Enforcer bawahannya. Sasayama tidak membenci Kougami, tapi seringkali mereka cekcok karena Kougami terlalu 'polos', sedangkan Sasayama telah terbiasa merasakan dan melihat kegelapan hati manusia.

Suatu hari, Sasayama bertemu seorang gadis berkeliaran di distrik Oushima, yang dikenal sebagai wilayah tak bertuan dan rawan kejahatan. Touko, gadis itu tengah mengejar (baca; stalking) guru sekolahnya, Touma Kozaburo, yang diam-diam ditaksirnya. Sasayama yang baru saja kehilangan adik perempuan merasakan kemiripan Touko dengan adiknya, sehingga tak bisa membiarkannya.

Dalam pertemuan kedua mereka, kembali di distrik Oushima, keduanya menjadi cukup akrab. Terutama setelah Sasayama memuji dan mengajarkan Touko cara memotret yang benar.
Sementara itu, kota tengah dihantui kasus pembunuhan sadis dimana mayat korban dijadikan spesimen dan dipajang di tempat umum. Divisi 1 tidak dapat jatah, tapi Sasayama yang mencurigai Touma - dan mencemaskan Touko karenanya berusaha menyelidiki kasus tersebut diam-diam.

Walaupun bukan ditulis oleh Fukami Makoto, novel ini tidak kalah menarik dengan seri utamanya. Bahkan saya bilang, Namae no Nai Kaibutsu ini lebih unggul karena menampilkan kekerasan yang tidak ditutup-tutupi sewaktu Touma membunuh korban ketiganya dengan menggunakan bolpoin.

Dan tentu saja, bagian favorit saya; serpis kipas angin yang menampilkan Yayoi di ruang kerja Shion.

Kalaupun ada keluhan, hanyalah ending yang sangat pahit, tapi bisa saya terima karena tidak terkesan 'kejar setoran'. Bagaimanapun, akhir itu sesuatu yang sudah pasti, sepasti nasib para Gold Saint di Saint Seiya Lost Canvas.

Rabu, 13 Januari 2016

Machida-kun No Sekai



Machida Hajime. Anak SMA berkacamata yang sangat biasa.

Wajah biasa, nilai biasa (cenderung anjlok, malah), dan sadar benar kalau dirinya sangat biasa.
Tapi, Machida punya satu kelebihan.

Dia menyukai orang lain, dan walau tak disadari, dia seringkali membuat orang 'senang' dengan tindakan-tindakan yang tidak menyolok, ataupun ucapan-ucapan yang sepintas mungkin terlihat seperti lip service semata.
Bukan karena ingin, tapi karena spontan. Seperti itulah Machida.

Machida tahu dirinya tidak sempurna, karena itu dia selalu bisa melihat 'kehebatan' dari satu tindakan yang dilakukan orang lain.
Keberanian untuk 'menembak' walau pernah ditolak berulang kali.
Niat untuk berubah yang diawali dari kepengecutan.
Hasrat untuk terus menyukai satu orang yang sama.
Keinginan berteman, yang terpendam di balik mulut yang pedas.

Komik ini adalah slice of life terbaik yang saya temukan dalam dua tahun terakhir.
Mungkin agak lebay, tapi di tengah buku dan film-film angst nan kelam, Machida benar-benar memberi secerah harapan yang indah.

Sabtu, 18 April 2015

Fujoshi Kanojo



Pertama kali saya membaca buku ini di kantor, saya harus menahan diri untuk tidak jatuh terguling dari kursi.

Biasanya saya kurang suka dengan true story, tapi yang satu ini perkecualian.

Pertama-tama, saya suka karena buku ini bukan melecehkan otaku atau fujoushi. Sebaliknya malah, di sini diperlihatkan betapa sulitnya orang biasa menjalani keseharian di tengah otaku, sukanya BL (Boys Love) pula. Mulai dari dibujuk menulis doujin novel BL Gundam benih, menampung komik-komik yang jelas-jelas bukan selera, sampai menonton siaran khusus Evangelion, di tengah maniaknya, tanpa punya bayangan sama sekali, film tentang apa itu.

Belum lagi 'keegoisan' dodol sang pacar, seperti mengirim paket game ero ke alamatnya karena Y-ko (si cewek) tidak mau ketahuan belanja barang-barang 'dewasa' begitu. Lalu tak lupa, event-event romantis yang kerap bubar-jalan mood-nya lantaran meta yang dilontarkan Y-ko (bagian yang membuat saya terharu banget pada kesabaran Pentabu).

Dan karena buku ini sebenarnya bisa dibilang copy-paste dari blog Pentabu (Si cowok yang pacarnya fujoushi ini), formatnya sederhana dan mudah dibaca.

Agak sayang, karena Pentabu mengakhiri blog-nya setelah buku kedua.
Tapi belakangan ini saya baru tahu kalau ternyata Pentabu dan Y-ko telah menikah, dan menilik tweet sang suami, tampaknya dia masih saya dipontang-pantingkan oleh hobi sang istri fujoshi.

Rabu, 25 Maret 2015

Ore Monogatari!!



Biasanya sebuah shojo-manga menampilkan cowok ganteng yang super keren.
Tapi tidak dalam kisah ini.

Gouda Takeo adalah cowok yang seperti gorila; tinggi besar, muka seram, dan sangat kuat.
Sepanjang 17 tahun hidupnya, Takeo tak pernah sukses menarik perhatian lawan jenis karena penampilannya. Bahkan 50% perbuatan baiknya yang dilakukan secara spontan semua jadi 'penghargaan' yang diterima oleh sahabat karibnya, Makoto (yang akrab dipanggil Suna oleh Takeo).

Tapi, Dewa memang maha adil.
Suatu hari, Takeo menolong seorang gadis di kereta. Walau setelahnya Takeo kena skors karena memukul orang, pertemuan ini membuka lembar baru dalam hidup Takeo; punya pacar.

Saya suka komik ini karena tidak ada tarik ulur yang kebangetan, yang kerap jadi penyakit komikus genre serupa.

Dan saya senang sekali karena untuk pertama kalinya dalam sekian tahun, ada karakter sahabat yang benar-benar loyal, dan tidak iri pada 'rezeki' tokoh utama.

Selasa, 17 Desember 2013

I Want to Hear Your Voice



Dibuka dengan kisah seorang perawat bernama Kanako, yang suatu hari bertemu dengan pasien cilik bernama Kengo, yang kedua orang tuanya tuna rungu.

Dokter yang menangani anak tersebut tidak merasa perlu menjelaskan lewat tulisan karena menganggap sudah cukup dengan menjelaskannya pada kakek-nenek anak itu. Kanako yang tidak senang dengan diskriminasi tersebut tetap berusaha menjelaskan tentang penyakit yang diderita Kengo dengan menggunakan bahasa isyarat. Dari situ, Kanako kemudian mengetahui bahwa selama ini Kengo dan Miho, adik perempuannya tidak pernah berkomunikasi dengan orang tua mereka.

Terlahir dari orang tua yang tuna rungu, itulah kondisi Kanoko, si pencerita dalam buku ini. Walau banyak kesulitan, berkat nenek yang selalu mendampingi keluarga mereka, Kanako tumbuh dengan sehat. Namun, seiring pertumbuhannya, Kanoko mulai merasakan ketidaknyamanan akan kondisi orang tuanya. Hal ini pertama dirasakan olehnya ketika masuk taman bermain. Namun, Kanako tetap merasa bahagia, karena kedua orang tuanya selalu memahami keinginannya.

Ujian terbesar bagi keluarga Kanako mungkin dimulai ketika masa SD. Kanako mulai merasa malu akibat ejekan teman-temannya tentang orang tuanya. Kesedihan itu berkembang jadi ketidak puasan yang ditimpakan pada orang tuanya. Sempat terjadi gesekan-gesekan dalam keluarga, namun, sekali lagi, keberadaan nenek membuat Kanako paham bahwa cinta orang tuanya tidak terganggu sebagaimana indera mereka, dan bahwa kedua orang tuanya tidak pernah berharap untuk terlahir demikian.

Ditulis dengan gaya bercerita yang sederhana, namun mampu menggambarkan dengan sangat mengharukan, bagaimana kehidupan seorang anak, mulai dari terlahir hingga dewasa dan memutuskan untuk menjadi perawat yang memihak orang-orang dengan keterbatasan yang sering kali dipandang rendah oleh dokter, yang seharusnya melayani masyarakat yang membutuhkan.

Namun buku ini tidak lantas menjadikan mereka sebagai pihak yang ‘jahat’, namun lebih ke arah ‘betapa orang-orang mudah sekali melupakan mereka yang kurang beruntung’, serta betapa mudahnya jika kita memang ingin saling memahami, tanpa dihalangi oleh kekurangan kita.