Tampilkan postingan dengan label slice of life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label slice of life. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 April 2017
Jingai-san No Yome
Tomari Hinowa adalah seorang siswa SMA biasa...hingga dirinya disunting makhluk bernama Kanenogi. Ya. MAKHLUK, karena Hinowa sendiri tak paham makhluk apa yang memilihnya untuk jadi pasangan hidup ini.
Walau awalnya bingung, tak butuh waktu lama bagi Hinowa untuk kesemsem sepenuhnya pada Kanenogi. Dia bahkan tak mempersalahkah dirinya berstatus 'istri' dari Kanenogi. Dan pelan-pelan kita akan diperkenalkan pada para 'istri' makhluk-makhluk gak jelas lain, yang ternyata cukup banyak di sekitarnya. Salah satunya Sora Hikurakawa, teman sekelas Hinowa yang diperistri makhluk mirip luak bernama Fuwai. Sebagai sesama 'istri', keduanya langsung akrab walau Hikurakawa, yang sudah enam bulan menikah, sering sirik pada pasangan Hinowa-Kanenogi yang dianggapnya super mesra.
Komik ini sebenarnya membuat saya bingung, apakah bisa digolongkan ke dalam BL, secara tokoh utamanya adalah para cowok yang menjadi 'istri'. Tapi, kalaupun BL, komik ini bisa dibaca semua orang, apalagi yang bosan dengan kisah cinta yang 'biasa'. Tak ada adegan yang aneh-aneh, apalagi berbahaya. Tapi, joke di dalamnya mungkin memang bukan untuk semua orang.
Sabtu, 17 Desember 2016
Otaku ni Koi wa Muzukashii
Narumi adalah OL biasa...setidaknya itulah yang terlihat di luar, karena sebenarnya dia adalah seorang otaku, tepatnya fujoshi akut. Patah hati dengan rekan kerjanya membuat Narumi mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, dan pindah ke tempat lain. Tanpa disangka-sangka, di sana dia malah bertemu Hirotaka, teman sepermainannya sejak kecil. Hirotaka yang ganteng tapi super datar sebenarnya juga seorang otaku, walau lebih cenderung ke video game.
Sejak kecil, Hirotaka sebenarnya sudah menyukai Narumi. Karena itu, ketika suatu malam Narumi mengeluhkan peruntungan jodohnya yang apes melulu (padahal kalau di game selalu lancar jaya), Hirotaka pun menyatakan perasaannya. Awalnya, karena sesama otaku dan berbeda selera, hubungan keduanya tidaklah semulus itu (walau tidak lantas bertengkar). Tapi toh Narumi tahu akan perhatian Hirotaka padanya (cowok yang bahkan rela diajak berkeliling di event penuh barang BL), dan pasangan otaku ini pun menjalani kehidupannya yang penuh 'warna', dan kadang diramaikan pula dengan pasangan otaku lainnya di kantor mereka, serta adik Hirotaka yang entah kenapa jomblo melulu padahal tak kalah menariknya dengan sang kakak.
Rabu, 21 September 2016
Ohitori Shokudo
Kedai Sei-chan adalah rumah makan kecil yang tidak menyolok. Hanya punya 7 kursi, dan dikelola oleh Seiichiro, pemuda pemalu berkacamata yang meneruskan rumah makan ini sejak ayahnya tiada. Tidak ada menu istimewa, tapi selalu punya pengunjung karena rasa masakannya yang dinilai 'rasa masakan ibu' dan kebersihannya.
Seiichiro yang kerap dipanggil Sei-chan sebenarnya punya sisi lain yang tak pernah diduga oleh para pelanggan; dia seorang gitaris rock band yang cukup terkenal. Rekan-rekannya tentu saja tahu tentang ini, dan tak pernah protes, kecuali bahwa tour selalu hanya bisa di hari Sabtu, Minggu atau libur panjang Obon dan tahun baruan (karena pelanggan yang kebanyakan pekerja kantoran hanya libur di saat itu).
Komik ini tidak menjual gambar makanan yang sangat menggoda seperti banyak komik kuliner pada umumnya, tapi nuansa slice of life yang disajikan di dalamnya sangat bagus dan tidak memberikan konflik sok berat atau kompetitif tidak penting. Stereotype ayah keras kepala yang kolot pun tak ada di sini (almarhum ayah Sei-chan digambarkan sering menonton konser putranya, bahkan sampai dive segala).
Selain kehidupan ga
nda Sei-chan, poin drama lain kisah ini adalah bagaimana Sei-chan berinteraksi dengan pengunjung perempuan - yang mana salah satunya menjadi pemicu untuk buka sampai malam (kedai makan perkantoran biasanya hanya beroperasi siang). Sei-chan yang polos mudah jatuh hati dengan pengunjung, tapi karena sikap pemalu dan memang belum beruntung, dia tetaplah jomblo yang disukai orang-orang sekitarnya.
Satu-satunya keluhan saya untuk komik ini hanyalah kurangnya masakan yang tampil di dalamnya, tapi tidak mengurangi nilai positifnya, yang nyaris sempurna (penilaian super subjektif saya).
Rabu, 13 Januari 2016
Machida-kun No Sekai
Machida Hajime. Anak SMA berkacamata yang sangat biasa.
Wajah biasa, nilai biasa (cenderung anjlok, malah), dan sadar benar kalau dirinya sangat biasa.
Tapi, Machida punya satu kelebihan.
Dia menyukai orang lain, dan walau tak disadari, dia seringkali membuat orang 'senang' dengan tindakan-tindakan yang tidak menyolok, ataupun ucapan-ucapan yang sepintas mungkin terlihat seperti lip service semata.
Bukan karena ingin, tapi karena spontan. Seperti itulah Machida.
Machida tahu dirinya tidak sempurna, karena itu dia selalu bisa melihat 'kehebatan' dari satu tindakan yang dilakukan orang lain.
Keberanian untuk 'menembak' walau pernah ditolak berulang kali.
Niat untuk berubah yang diawali dari kepengecutan.
Hasrat untuk terus menyukai satu orang yang sama.
Keinginan berteman, yang terpendam di balik mulut yang pedas.
Komik ini adalah slice of life terbaik yang saya temukan dalam dua tahun terakhir.
Mungkin agak lebay, tapi di tengah buku dan film-film angst nan kelam, Machida benar-benar memberi secerah harapan yang indah.
Rabu, 25 Maret 2015
Ore Monogatari!!
Biasanya sebuah shojo-manga menampilkan cowok ganteng yang super keren.
Tapi tidak dalam kisah ini.
Gouda Takeo adalah cowok yang seperti gorila; tinggi besar, muka seram, dan sangat kuat.
Sepanjang 17 tahun hidupnya, Takeo tak pernah sukses menarik perhatian lawan jenis karena penampilannya. Bahkan 50% perbuatan baiknya yang dilakukan secara spontan semua jadi 'penghargaan' yang diterima oleh sahabat karibnya, Makoto (yang akrab dipanggil Suna oleh Takeo).
Tapi, Dewa memang maha adil.
Suatu hari, Takeo menolong seorang gadis di kereta. Walau setelahnya Takeo kena skors karena memukul orang, pertemuan ini membuka lembar baru dalam hidup Takeo; punya pacar.
Saya suka komik ini karena tidak ada tarik ulur yang kebangetan, yang kerap jadi penyakit komikus genre serupa.
Dan saya senang sekali karena untuk pertama kalinya dalam sekian tahun, ada karakter sahabat yang benar-benar loyal, dan tidak iri pada 'rezeki' tokoh utama.
Langganan:
Postingan (Atom)




